“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Ukhuwah bukan sekadar kata yang sering diucapkan, tapi rasa yang tumbuh ketika orang-orang memilih untuk saling menopang. Di situlah kebersamaan menemukan maknanya bukan karena selalu sejalan, melainkan karena tetap bertahan dan menguatkan, bahkan saat perjalanan terasa berat. Ukhuwah itu aneh. Ia tidak selalu lahir dari momen besar atau kata-kata indah, tapi sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana: duduk bersama di ruang rapat, berbagi lelah, saling menunggu, dan terus memilih untuk berjalan bersama. Begitulah ukhuwah Assadullah tumbuh pelan, tapi mengikat.
Semua bermula dari sebuah titik awal ketika Anggota Muda resmi dilantik dan mulai mengambil peran. Awalnya terasa biasa saja. Masih banyak rasa canggung, masih sekadar saling sapa seperlunya. Namun dari rapat-rapat awal itulah benang kebersamaan mulai terajut. Tidak langsung erat, tapi cukup kuat untuk membuat semua tetap bertahan dan belajar mengenal satu sama lain. Perjalanan itu kemudian membawa Assadullah pada pengalaman-pengalaman yang memperluas makna kebersamaan. Saat terlibat dalam gerakan menutup aurat dan aksi solidaritas untuk Palestina, ukhuwah tidak lagi hanya berbicara tentang internal organisasi. Di sana tumbuh kesadaran bahwa persaudaraan juga berarti peduli bahwa kebersamaan seharusnya punya dampak, bukan hanya rasa nyaman di lingkar sendiri.
Ramadan datang membawa suasana yang berbeda. Bukber bersama dan kultum sederhana menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kegiatan. Duduk bersama, berbagi makanan, mendengarkan nasihat singkat semuanya terasa hangat dan dekat. Dari momen itu, ukhuwah tidak hanya terasa sebagai kebersamaan fisik, tapi juga sebagai ikatan yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Kegiatan berbagi takjil kemudian melengkapi makna tersebut: ukhuwah yang baik adalah ukhuwah yang mengalir, yang memberi, dan yang bermanfaat. Seiring waktu, tantangan pun datang. Agenda besar, persiapan panjang, koordinasi yang melelahkan semua itu menjadi ujian kebersamaan. Namun justru di tengah kesibukan dan kelelahan itulah rasa saling percaya tumbuh. Bekerja bersama, menyelesaikan masalah bersama, dan tetap bertahan meski lelah membuat ukhuwah tidak lagi rapuh. Ia menjadi lebih dewasa.
Di sela kepadatan itu, alam menjadi tempat untuk kembali bernapas. Tadabur alam dan pendakian menjadi pengalaman yang mempertemukan rasa syukur dan kebersamaan. Setiap langkah pendakian mengajarkan arti saling menjaga dan saling menunggu. Sampai di puncak, rasa bahagia terasa lebih lengkap karena dinikmati bersama. Ukhuwah terasa nyata bukan hanya dirasakan, tapi dijalani. Puncak kebersamaan itu semakin terasa ketika Training Dasar dilaksanakan. Selama beberapa hari, semua berada dalam satu ritme yang sama: lelah bersama, belajar bersama, tertawa bersama. Intensitas waktu dan kebersamaan membuat jarak benar-benar hilang. Di titik inilah banyak yang sadar bahwa ukhuwah bukan lagi konsep, melainkan rasa memiliki yang tumbuh tanpa disadari.
Rutinitas kemudian dilanjutkan melalui Sekolah Angkatan Muda. Pertemuan-pertemuan mingguan menjadi ruang untuk merawat apa yang sudah terbentuk. Hubungan yang tadinya intens perlahan menjadi stabil, hangat, dan akrab. Hingga akhirnya, tadabur alam di Pantai Air Manis menjadi penutup yang manis penuh tawa, permainan, dan kebersamaan tanpa beban. Sebuah pengingat bahwa ukhuwah juga perlu dirayakan. Namun sejatinya, kekuatan ukhuwah Assadullah tidak hanya lahir dari kegiatan besar. Ia tumbuh dari rapat kecil sebelum acara, dari liqo’ dan pengajian, dari perjalanan pulang bersama, dari obrolan ringan yang tidak pernah tercatat di agenda. Hal-hal kecil itulah yang diam-diam menjadi perekat paling kuat.
Pada akhirnya, ukhuwah tidak diukur dari seberapa banyak agenda yang telah dilalui, melainkan dari seberapa kuat rasa saling memiliki yang tumbuh di dalamnya. Ukhuwah Assadullah bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari proses, dari kebersamaan yang konsisten, dari keinginan untuk tetap berjalan bersama meski tidak selalu mudah. Dan selama rasa itu terus dijaga, ukhuwah ini akan tetap hidup menjadi kekuatan, menjadi rumah, dan menjadi cerita yang terus berlanjut.
Assadullah telah belajar bahwa kebersamaan bukan tentang selalu sejalan, tetapi tentang tetap bertahan dalam satu ikatan saling menguatkan saat lelah dan saling mengingatkan saat mulai lalai. Selama niat baik itu terus dijaga dan langkah tetap diluruskan bersama, ukhuwah Assadullah tidak akan berhenti pada satu periode atau satu cerita. Ia akan terus hidup, menjadi penguat langkah, penjaga arah, dan rumah bagi setiap hati yang memilih berjalan bersama di jalan kebaikan.
Penulis: Kestari Assadullah 4.5