Ada kisah yang tak akan hilang dalam jejak dakwah, kisah tentang pertemuan yang Allah atur dengan penuh kasih. Tentang orang-orang yang datang dari arah berbeda, tapi disatukan oleh niat yang sama yakni meniti jalan kebaikan karena-Nya. Di rumah ini, setiap Langkah menjadi saksi bahwa dakwah bukan sekedar kegiatan, melainkan perjalanan hati.
“Bersama
bukan karena kebetulan, tapi karena Allah memilih kita untuk berjalan di jalan
yang sama.”
Ada
satu hal yang tidak bisa tergantikan dari sebuah perjalanan dakwah, bukan hanya
program kerja yang tersusun rapi, bukan pula capaian yang terlihat di
permukaan. Tetapi rasa kebersamaan, tanggungjawab, dan iman yang berakar di
dalamnya.
Begitulah
kiranya yang tergambar dari perjalanan Assalam Sumbar, sebuah organisasi dakwah
yang bukan sekadar wadah kegiatan melainkan rumah tempat para pemuda belajar
menapaki jalan perjuangan. Di dalamnya, setiap program dan kegiatan hanyalah
wasilah, yang paling utama ialah bagaimana setiap jiwa bertumbuh dan berproses
bersama saling menguatkan dalam bingkai ukhuwah.
Assalam
Sumbar menjadi ruang penuh makna, tempat memori terukir dan kenangan
bersemayam. Ada tawa yang menenangkan, ada lelah yang memupuk keikhlasan, ada
kecewa yang menumbuhkan sabar, tangis yang mengajarkan arti tanggungjawab,
serta kesal yang berujung maaf yang menghangatkan. Dibalik semua itu, tersimpan
satu benang merah yang menyatukan: Orientasi karena Allah.
Pemuda
yang berjuang di jalan ini datang dari berbagai latar belakang; berbeda kampus,
jurusan, kepentingan, hingga jadwal kuliah. Ada yang berlari, ada yang
berjalan, ada pula yang sesekali tertatih. Namun, dalam keberagaman itu, mereka
belajar satu hal yakni menyamakan niat dan meluruskan arah.
Jalan
ini tidak mudah, seringkali ada ujian yang menghampiri, program kerja yang tak
berjalan sebagaimana mestinya, atau roundown kegiatan yang berantakan, dan
kendala yang datang bersamaan ditengah padatnya urusan masing-masing. Namun,
dari celah kesulitan itu, lahir kekuatan ukhuwah yang sesungguhnya, sejatinya
ukhuwah tidak tumbuh di atas kesempurnaan, melainkan pada perjuangan untuk
saling memahami di Tengah perbedaan.
Ukhuwah
di Assalam Sumbar bukan hanya kata yang terucap, tapi napas yang dihirup
bersama, diselimuti doa dan niat yang lurus karena setiap periode kepengurusan
menjadi bab tersendiri dalam buku Panjang perjuangan dakwah ini. Dari generasi
ke generasi semangat itu berpindah, tidak untuk menggantikan tapi untuk
melanjutkan. Kini, kepengurusan Asadullah 4.5 berada di penghujung perjalanan.
Tulisan ini hadir dari hati yang turut membersamai, ikut mendengar dan merasakan setiap Langkah perjuangan yang telah ditempuh. Ada rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan, bangga atas dedikasi yang mereka usahakan, atas kesungguhan yang mereka jaga meski tidak selalu mudah. Namun, dibalik rasa bangga ini terselip pula rasa haru dan refleksi diri. Kami sadar dalam perjalanan ini pasti ada kekeliruan, ada arah yang kadang belum tepat, ada Keputusan yang belum sempurna. Tapi setiap kekurangan adalah pengingat bahwa dakwah bukan tentang hasil tanpa cela, melainkan tentang niat yang harus tetap dijaga.
Saat langkah kepengurusan ini mulai menepi, kami menundukkan kepala dengan Syukur. Syukur karena Allah telah pertemukan dalam satu barisan, Syukur karena dalam suka dan duka, ukhuwah tetap terjaga, Syukur karena masih diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah kecil perjuangan kapal ini.
Sebab
pada akhirnya, di jalan dakwah ini yang paling indah bukanlah nama yang
tertulis di laporan kegiatan, bukan pula keberhasilan program yang
terselesaikan dengan sempurna, melainkan hati yang saling teguh karena Allah,
yang bersama meniti lelah dan menjemput berkah. Ukhuwah ini bisa saja takkan
abadi dalam bentuk kebersamaan fisik, tapi insyaAllah akan kekal dalam doa,
dalam rindu, dan dalam catatan amal yang tersimpan dengan penuh kasih.
Terima
kasih, Asadullah 4.5 atas perjuangan yang tulus. Semoga setiap langkah, tawa,
air mata, dan lelah yang pernah tercurah di jalan ini menjadi saksi di hadapan
Allah, bahwa kita pernah berjuang bersama. Semoga setiap langkah kita selalu
terjaga.
Penulis
MPP ASADULLAH 4.5